Robot Trading Sering Dipakai buat ‘Alat’ Tipu-tipu, Baca Ini Biar Aman

Jakarta – Robot trading belakangan ini semakin populer di dunia investasi, terutama di sektor forex. Dengan sederet kemudahan yang ditawarkan, sistem ini menarik para investor newbie.
Menariknya lagi ternyata banyak dari web entitas di bidang perdagangan berjangka komoditi (PBK) yang beroperasi ilegal dan diblokir Bappebti menggunakan modus robot trading tersebut.

Memang dengan robot trading memberikan kemudahan bagi penggunanya dalam bertransaksi. Tak perlu repot-repot menyusun strategi transaksi, karena robot trading dibuat untuk menjalankan transaksi secara otomatis, dengan memanfaatkan sinyal pergerakan pasar untuk menentukan apakah melakukan tindakan beli atau jual pada titik waktu tertentu.

Tapi robot trading bukan sesuatu yang sempurna. Menggunakan robot trading juga memiliki risiko.

Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra menjelaskan, salah satu risiko menggunakan robot trading adalah kondisi pasar forex yang selalu berubah. Robot trading sendiri belum bisa beradaptasi dengan perubahan situasi pasar.

Robot ini diciptakan dengan strategi yang statis, artinya tidak mampu beradaptasi dengan perubahan situasi market. Ya suatu saat robot ini malah berkebalikan mendorong kerugian yang lebih besar,” terangnya kepada detikcom, Minggu (26/9/2021).

Oleh karena itu dalam penggunaan robot trading, investor harus tetap memantau transaksinya. Ariston menjelaskan, ada beberapa jenis robot trading, ada yang beroperasi otomatis secara penuh, ada juga yang semi otomatis.

Jika ingin tetap menggunakan robot trading, Ariston menyarankan agar pertama kali melihat historical transaksi dari robot trading yang ingin dibeli. Setidaknya dalam periode 1 tahun hingga 3 tahun.

Tujuannya untuk melihat tingkat risiko dari robot trading itu melalui indikator drawdown, yang artinya seberapa dalam berkurangnya portofolio nasabah ketika robot trading itu salah dalam mengambil keputusan. Jika si investor sudah tahu besarnya indikator drawdown itu, lalu pastikan bahwa mampu menahan potensi risikonya.

“Jadi pemakainya paham risiko robot itu segini. Kalau berani berarti harus menyiapkan equity sesuai dengan drawdown yang bisa menahan risiko penurunan itu,” terangnya.

Nah yang paling penting Ariston menegaskan bahwa tidak ada robot trading yang 100% menguntungkan. Sehingga yang paling pertama menjadi pertimbangan adalah tingkat risikonya.

Melansir Investopedia, Minggu (26/9/2021), untuk memperoleh robot trading sebenarnya bisa didapat melalui internet. Tapi investor disarankan berhati-hati dalam memilih sistem perdagangan tersebut.

Sering kali perusahaan atau platform penyedia sistem transaksi robot trading hanya muncul sesaat. Setelah banyak investor yang membelinya mereka tiba-tiba menghilang. Padahal sering kali juga platform tersebut mengiming-imingi jaminan uang kembali.

Robot trading juga mungkin bisa menentukan aksi jual atau beli secara tepat dari sisi waktu karena terus memantau pergerakan kurva. Namun Investopedia menegaskan bahwa sistem bukanlah hal yang paling tepat untuk menilai sebuah risiko dan peluang dalam bertransaksi.

Sebab kebanyakan robot trading forex hanya menghasilkan keuntungan dalam jangka pendek. Tapi jika dilihat dalam jangka panjang, hasil kinerjanya berbanding terbalik. Hal itu karena mereka otomatis bergerak dalam rentang tertentu dan mengikuti tren.

Sumber:Detikfinance

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *