Berusia 88 Tahun, Berikut 5 Fakta Menarik Tentang Persib

Persib meraih banyak prestasi di kancah sepak bola Indonesia

Jakarta, IDN Times – Persib Bandung merayakan hari jadinya yang ke-88 pada Minggu, 14 Maret 2021. Hampir menginjak satu abad, klub asal Kota Kembang ini punya sejarah panjang di kancah sepak bola nasional.https://404e3635fd3e7d83d6c0e31f7187f65b.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-38/html/container.html?n=0

Walau punya berbagai gelar juara bergengsi, pasang surut prestasi pernah dirasakan klub berjuluk Pangeran Biru tersebut. Mereka bahkan sempat menelan pil pahit, degradasi ke kompetisi kasta kedua di medio 70-an.

Persib didukung suporter fanatik yang dikenal dengan sebutan bobotoh. Mereka acap kali hadir ketika tim kesayangannya mentas di laga tandang. Bisa dibilang, mereka menjadi pemain ke-12 saat Persib mentas di lapangan hijau.

Prestasi terakhir yang diraih Persib adalah juara Liga Indonesia 2014 saat ditangani pelatih lokal, Djadjang Nurdjaman. Gelar itu dilengkapi dengan prestasi lainnya, yakni juara Piala Presiden dan Piala Walikota Padang 2015.

Di luar itu, banyak sekali gelar yang mengiringi perjalanan Persib sejak mereka berdiri. Berikut adalah fakta menarik tentang klub yang merayakan ulang tahun ke-88 ini.

1. Sejarah berdirinya Persib

steemit.com/buku Soeratin Sosrosoegondo: Menentang Penjajahan Belanda dengan Sepakbolasteemit.com/buku Soeratin Sosrosoegondo: Menentang Penjajahan Belanda dengan Sepakbola

Sepak bola di Kota Kembang mulai dijadikan alat perjuangan bangsa melawan penjajahan pada 1923. Kala itu organisasi bernama Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB), cikal bakal Persib, dipimpin Syamsudin untuk melawan penjajah melalui bal-balan. 

Pergerakan BIVB dilanjutkan anaknya R Atot Soerawinata. Mereka begitu aktif menggelar pertandingan di Lapangan Tegalega. Selain pertandingan mereka juga aktif melakukan pertemuan dengan beberapa bond untuk usaha melawan penjajahan kolonial. Pertemuan itu pun terus berlanjut hingga mereka memiliki gagasan untuk membuat federasi.

Dikutip laman resmi PSSI, BIVB bersama bond lain, yakni Voetbal Indonesische Jacatra (VIJ), Persatuan Sepak bola Mataram (PSM Yogya), Voerslandshe Voetbalbond (VVB Solo), Madioensche Voetbalbond (VVB), Indonesische Voetbalbond Magelang (IVBM), dan Soerabajasche Indonesische Voetbalbond (SIVB), yang diinisiasi Ir. Soeratin Sosrosoegondo melakukan pertemuan di Yogyakarta pada 19 April 1930. 

Mereka sepakat mendirikan badan nasional baru bernama Persatuan Sepak raga Seluruh Indonesia (PSSI). Nama itu tak bertahan lama karena dalam waktu singkat diubah menjadi Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) saat kongres perdana digelar di Solo pada tahun yang sama.

Namun, saat kompetisi mulai berjalan, BIVB menghilang dari aktivitas sepak bola Indonesia pada medio 1932. Tak ada kejelasan mengapa mereka menghilang. Tapi, saat itu mereka kesulitan menggelar pertandingan karena Bandoengsche Voetbal Bond (BVB) sering menggunakan lapang di alun-alun.

Tak lama berselang, muncul Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung (PSIB). Klub baru itu dinilai sebagai nasionalisasi nama dari BIVB. Mereka muncul bersama dengan National Voetball Bond (NVB).

Tepat pada 14 Maret 1933 keduanya pun sepakat melebur hingga lahirlah nama Persib. Kala itu Anwar St Pamoentjak tercatat sebagai ketua umum pertamanya. Dan tanggal tersebut hingga kini ditandai sebagai lahirnya Persib.

2. Sempat degradasi ke divisi I

Sejak menyandang nama Persib, beragam prestasi diraih klub kebanggan bobotoh ini. Mereka tercatat pertama kali meraih prestasi di kompetisi perserikatan pada 1937, cikal bakal kompetisi Liga Indonesia saat ini. Setelah itu, kompetisi sempat vakum lantaran Indonesia dijajah Jepang.

Memasuki medio 50-an, pasca Indonesia merdeka, kompetisi kembali berjalan. Persib yang pada saat itu dihuni Aang Witarsa, Amung, Andaratna, Ganda, Freddy Timisela, Sundawa, Toha, Leepel, Smith, Jahja, dan Wagiman hanya mampu menjadi runner-up setelah kalah bersaing dengan Persebaya Persebaya.

Penantian panjang Persib meraih gelar akhirnya terwujud pada kompetisi 1961. Mereka mampu mengandaskan PSM Ujung Pandang di babak final. Gelar juara itu membuat mereka ditunjuk PSSI mengikuti turnamen Piala Aga Khan di Pakistan pada 1962.

Setelahnya, prestasi Maung Bandung tak menentu. Memasuki 1970-an mereka bahkan sulit bersaing dengan tim Perserikatan lainnya. Puncaknya, pada Kompetisi Perserikatan 1978/79 tim kebanggaan masyarakat Jawa Barat ini harus degradasi ke divisi I.

Tampil di Kompetisi Perserikatan menggunakan format anyar, Persib di bawah asuhan Rusli sebetulnya tampil bagus sejak babak penyisihan. Mereka bahkan bisa lolos ke delapan besar sebagai juara Grup B, ditemani PSM Ujung Pandang.

Pada babak delapan besar semua tim bersaing memperebutkan lima tiket tampil di Kejurnas PSSI. Sementara, klub yang tak bisa lolos, bakal turun kasta ke kompetisi di bawahnya atau divisi satu.

Tampil di babak delapan Bersib tergabung di grup neraka bersama Persija Jakarta, Persipura Jayapura, dan Persebaya Surabaya. Usai menang di laga perdana melawan Mutiara Hitam, Persib ditekuk Persija (0-3) dan Persebaya (0-2). Hasil itu memaksa mereka tampil di babak play-off memperebutkan satu tiket di Kejurnas PSSI.

Kesempatan di babak play-off melawan Persiraja Banda Aceh pun berakhir dengan kekalahan. Akhirnya, hanya PSMS Medan, Persija, Persebaya, PSM, dan Persiraja, yang tampil di Kejurnas PSSI.

3. Punya segudang prestasi

Lintas sejarah Persib. (persib.co.id).Lintas sejarah Persib. (persib.co.id).

Hal itu membuat manajemen Persib berbenah. Mereka mendatangkan pelatih Polandia, Marek Janota, untuk membangun tim muda. Upaya yang membuahkan hasil. Dia mampu mengorbitkan darah muda berbakat seperti antara lain, Adjat Sudrajat, Robby Darwis, Djadjang Nurdjaman, hingga Sukowiyono.

Mereka mampu bahu membahu dengan penggawa senior macam Encas Tonif dan Kosasih B, membawa Persib naik kembali ke divisi utama. Selain itu, dua tahun berturut-turut, yakni pada edisi 1982/83 dan 1984/85 mereka juga bisa tampil di babak final divisi utama berhadapan dengan PSMS.

Dua tahun berselang, Persib akhirnya bisa membasuh dahaga gelar dengan menjadi juara di Kompetisi Perserikatan 1986. Kala itu, mereka mampu menundukkan Perseman Manokwari dengan skor tipis 1-0. Djanur, julukan Djadjang Nurdjaman berhasil mempersembahkan gol kemenangan dalam laga final.

Setelah itu, reputasi Persib kembali melambung. Dihuni banyak pemain berlabel Timnas Indonesia, Persib kembali membawa pulang trofi Kompetisi Perserikatan pada 1989/90. Persebaya yang jadi lawannya di babak final tak bisa berbuat banyak dan harus menelan kekalahan 0-2.

Empat tahun berselang, tepatnya musim 1993/94 gelar serupa kembali diraih Persib. Spesialnya, Pangeran Biru yang diasuh pelatih legendaris, Indra Tohir, mampu menggondol trofi terakhir Kompetisi Perserikatan. Sebab, itu adalah liga amatir terakhir sebelum akhirnya PSSI meleburkan Kompetisi Perserikatan dan Galatama setahun setelahnya.

Kompetisi Liga Indonesia pertama itu pun kembali dimenangkan Persib. Hanya diperkuat pemain lokal, tim besutan Indra Thohir ini berhasil menaklukan Petrokimia Putra dengan skor 1-0 pada final yang dihelat di Stadion Senayan (Gelora Bung Karno), Minggu, 30 Juli 1995.

Setelahnya, prestasi Persib naik turun lagi. Mereka baru kembali menjadi kampiun kompetisi kasta tertinggi pada 2014 kala diperkuat Ferdinand Sinaga, penyerang yang kini kembali lagi berseragam Persib.

Di luar tujuh gelar kompetisi Liga Indonesia, Persib juga mampu meraih beberapa prestasi di beberapa turnamen elite, yakni empat kali Siliwangi Cup, sekali juara Jusuf Cup, Piala Persija, Marah Halim Cup, Piala Presiden, dan beberapa kejuaraan lainnya.

4. Mulai menggunakan pemain asing sejak 2003

Makan Konate saat membawa Persib juara ISL 2014. (ANTARA/Rosa Panggabean/pd/14).Makan Konate saat membawa Persib juara ISL 2014. (ANTARA/Rosa Panggabean/pd/14).

Persib dikenal sebagai klub yang selalu menggunakan pemain lokal sejak kompetisi Perserikatan. Mereka bahkan bisa juara tanpa menggunakan pemain asing kompetisi Liga Indonesia edisi pertama pada 1994/95.

Tanpa pemain asing sejak kompetisi Perserikatan dimulai, Persib masih mempertahankan tradisi tersebut hingga musim 2003. Hal itu ditandai ketika Maung Bandung dilatih legiun asing untuk kedua kalinya.

Kala itu, Persib yang masih jadi tim milik pemerintahan ditangani pelatih asal Polandia, Marek Andrejz Sledzianowski. Dia membawa empat pemain dari negara yang sama, yakni Mariusz Mucharsky, Piotr Orlinski, Maciej Dolega, dan Pavel Bocian. 

Harapan sempat melambung di benak bobotoh (sebutan suporter Persib) yang menginginkan klub kebanggaannya berprestasi kembali. Maklum, usai era kejayaan Perserikatan dan Liga Indonesia edisi pertama, mereka acap kali gagal bersaing dengan klub yang jorjoran mengeluarkan dana besar untuk mendatangkan pemain asing.

Namun, kondisi berkata lain. Persib kala itu seperti membeli kucing dalam karung. Jangankan membawa juara, kuartet asing Polandia itu bersaing dengan pemain lokal saja cukup sulit.

Musim silih berganti, Persib pun terus gonta-ganti pemain asing. Mereka bahkan beberapa kali mengganti pemain asing di tengah jalan. Lagi-lagi, kontribusi yang minim membuat manajemen kurang puas.

Sederet pemain asing, mulai dari Suchao Nuchnum (Thailand), Redouanne Barkaoui (Maroko), Ikene Ikenwa (Nigeria), Patrico Jimenez (Cile), hingga Michael Essien (Ghana) pernah jadi idola di Persib.

Nama besar tak selalu berakhir bagus. Hal itu dirasakan pemain dunia Essien. Namun beberapa nama yang sempat diragukan justru mampu tampil ciamik dan membawa Persib jadi klub yang disegani. 

Beberapa pemain tentu tak bisa dilupakan bobotoh selama membela Persib. Mereka adalah Sinthaweechai Hathairattanakool, Lorenzo Cabanas, Christian Bekamenga, Makan Konate, hingga Vladimir Vujovic.

Dua nama terakhir malahan mampu mengantarkan Persib meraih gelar juara Liga Indonesia pada 2014.

5. Menjadi profesional dan dinyatakan klub terkaya Indonesia

Persib Store. (persib.co.id).Persib Store. (persib.co.id).

Usai menggelar kompetisi semi profesional mulai 1994 hingga 2007, PSSI mendeklarasikan kompetisi divisi utama dan divisi satu harus dikelola profesional sejak 2008. Klub-klub yang biasa disuapi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) harus belajar mendanai aktivitasnya secara mandiri. Tak sedikit klub yang ketar-ketir mencari sponsor untuk menjadi profesional.

Demi terus eksis di sepak bola tanah air, Persib pun bertransformasi jadi klub profesional. Diinisiasi tokoh-tokoh Jawa Barat, beberapa konsorsium akhirnya mau mengelola Persib di bawah naungan PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) pada akhir 2008.

Mereka mulai melakukan pembenahan dari soal urusan bisnis hingga pemilihan kandang. Persib akhirnya berpindah kandang ke Stadion Si Jalak Harupat pada 2010. Sebelumnya, stadion itu dipakai jika menggelar laga-laga besar yang menyedot animo banyak penonton.

Keluar masuknya pemain asing pun jadi hal lumrah sejak itu, walau sejak 2003, Persib sudah menggunakan legiun asing. Mereka bahkan dikenal royal mendatangkan pemain bintang sejak menjadi klub profesional, pemain-pemain macam Sergio van Dijk, Cristian Gonzales, Firman Utina, hingga eks Chelsea, Essien, pernah merasakan tampil untuk Persib.

Boleh dibilang Persib jadi klub percontohan yang mampu hidup tanpa dibiayai pemerintah melalui APBD lagi. Hal itu membuat mereka dengan mudah meraup pundi-pundi dari sponsor untuk mengarungi kompetisi.

Forbes bahkan sempat mendapuk Persib sebagai klub terkaya Indonesia pada 2018. lalu.Banyaknya sponsor yang diraih dan pendapatan lainnya membuat Persib ditaksir memiliki nilai pasar mencapai Rp2,24 triliun. 

Sumber:IDN Times

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.